Jangan Bernapas Dalam Lumpur

Jangan Bernapas Dalam Lumpur – Menyongsong pergantian tahun, setiap orang tentu memiliki rencana di tahun baru nanti. Baik itu terkait target-target tertentu dalam pencapaian prestasi, atau hanya ingin menerapkan perilaku bahwa harus lebih baik dari pada tahun sebelumnya. Apapun, kalau kita merencanakan dengan baik, akan mudah menjalankan segala sesuatunya dalam mencapai tujuan untuk mendapatkan hasil konkret sesuai keinginan.

Bagaimana rencana para pebisnis di tahun mendatang untuk memperkokoh bisnis di negara kita dengan dilandasi etika bisnisnya, demi kesejahteraan bersama. Momen pergantian tahun adalah waktu yang tepat untuk menggelorakan semangat untuk berbisnis dengan bersih. Jangan sampai berbisnis dengan tamak sehingga membuat orang lain tidak nyaman.

Hal-hal tidak bersih itu dapat kita lihat di sekeliling kita setiap hari. Misalnya saja, bagaimana orang dijebloskan di penjara karena hanya mampu ‘membayar’ sedikit. Sedangkan orang yang membayar banyak bisa lolos. Bagaimana para koruptor bisa dihukum ringan, sedangkan orang yang dituduh mencuri sandal harus dihukup lebih lama dari koruptor yang nilainya milyaran Rupiah.

Di bidang pajak, kasus-kasus suap tak bisa dihitung lagi. Padahal, kasus-kasus demikian diciptakan oleh orang bisnis sendiri. Para pebisnis maunya serba cepat. Apapun ditempuh agar urusan bisnisnya cepat selesai. Perilaku ini menular bagai virus. Maka, di tahun baru nanti, kita berharap jalur bisnis ditata satu per satu sehingga praktik bisnis yang kotor bisa hilang dan bisnis bisa berlangsung secara bersih.

Dalam era pemberantasakan korupsi yang gencar dilakukan saat ini, masih banyak juga orang-orang yang melakukan tindakan bisnis kotor secara sembunyi-sembunyi. Kita bisa mengumpamakan orang-orang yang berbisnis dengan tidak benar seperti orang yang bernapas dalam lumpur. Kenapa? Karena ada celah-celah yang membuat mereka mempraktikkan bisnis kotor. Kalau kemudian kita bertanya, Mengapa orang-orang seperti itu masih exist? Karena, mereka lihai dan licin seperti belut.

Jangan Bernapas Dalam Lumpur

Jangan Bernapas Dalam Lumpur [tdwclub.com]

Namun, tidak berarti semua pebisnis banyak yang demikian. Ada orang-orang yang berani melawan arus. Mereka tidak mau ikut-ikutan mencari-cari celah sehingga berpraktikk bisnis dengan kotor. Kita menyebut orang-orang seperti ini seperti “bernapas di udara segar”. Mari bantu mereka agar tidak ikut-ikutan “bernapas dalam lumpur”. Agar berani melawan arus yang tidak benar dalam bisnis orang harus berbekal etika bisnis.

Pengertian etika berbedar dengan etiket. Etiket berasal dari bahasa Prancis etiquette yang berarti tata cara pergaulan yang baik antara sesama menusia. Sementara itu etika, berasal dari bahasa Latin, berarti falsafah moral dan merupakan cara hidup yang benar dilihat dari sudut budaya, susila, dan agama.

Mempraktikkan bisnis dengan etiket berarti mempraktikkan tata cara bisnis yang sopan dan santun sehingga kehidupan bisnis menyenangkan karena saling menghormati. Etiket berbisnis diterapkan pada sikap kehidupan berkantor, sikap menghadapi rekan-rekan bisnis, dan sikap di mana kita tergabung dalam organisasi. Itu berupa senyum, sebagai apresiasi yang tulus dan terima kasih, tidak menyalah gunakan kedudukan, kekayaan, tidak lekas tersinggung, kontrol diri, toleran, dan tidak memotong pembicaraan orang lain.

Dengan kata lain, etiket bisnis itu memelihara suasana yang menyenangkan, menimbulkan rasa saling menghargai, meningkatkan efisiensi kerja, dan meningkatkan citra pribadi dan perusahaan. Berbisnis dengan etika bisnis adalah menerapkan aturan-aturan umum mengenai etika pada perilaku bisnis. Etika bisnis menyangkut moral, kontak sosial, hak-hak dan kewajiban, prinsip-prinsip dan aturan-aturan.

Jika aturan secara umum mengenai etika mengatakan bahwa berlaku tidak jujur adalah tidak bermoral dan beretika, maka setiap insan bisnis yang tidak berlaku jujur dengan pegawainya, pelanggan, kreditur, pemegang usaha maupun pesaing dan masyarakat, maka ia dikatakan tidak etis dan tidak bermoral.

Intinya adalah bagaimana kita mengontrol diri kita sendiri untuk dapat menjalani bisnis dengan baik dengan cara peka dan toleransi. Dengan kata lain, etika bisnis untuk mengontrol bisnis agar tidak tamak. Bahwa itu bukan bagianku. Perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Selamat menyongsong Tahun Baru 2013.

Refrensi: Mien R Uno, Lembaga Pendidikan Duta Bangsa Empower Yourself

Kunjungi juga cerita menarik dari Soichiro Honda : “Lihat Kegagalan Saya”

, , , , , , , , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply