Teknik Cara Menghindari Apes

Teknik Cara Menghindari Apes – Anda cukup menjawabnya didalam hati. Agar tidak seorang pun bisa mendengarnya selain diri Anda sendiri. Tapi, tolong dijawab dengan sejujurnya. Begini pertanyaannya: “Apakah Anda pernah mengambil sesuatu yang bukan hak Anda di kantor?” Hanya satu kata yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan itu: ‘pernah’ atau ‘tidak’. Itu saja.  Tidak usah ditambahi dengan embel-embel lain misalnya; “Tapi kan cuma sekali,” atau “Tapi kan hanya sedikit,” atau “Tapi kan nilainya tidak seberapa.” Tidak usah. Cukup ‘pernah’ atau ‘tidak’, satu kata itu saja. Tidak usah khawatir, toh jawabannya kan ada didalam hati. Tidak ada orang lain yang mendengarnya. Kalau sudah dijawab, so what?

Teknik Cara Menghindari Apes

Teknik Cara Menghindari Apes [nontondunia]

Dulu sekali. Ketika masih bekerja, saya punya seorang teman yang mendapatkan keputusan pahit dari kantor. Yaitu, diberhentikan secara tidak hormat. Karena ‘kepergok’ melakukan sesuatu. Repotnya, sanksi yang berlaku untuk penyimpangan seperti itu adalah diberhentikan. Tidak ada pembelaan yang bisa diberikan setelah segala sesuatunya terbukti secara meyakinkan. Namanya juga kepergok, tidak bisa bilang apa-apa lagi. Percuma membela diri juga. Orang jelas tertangkap basahnya kok. Maka teman saya pun hanya bisa pasrah saja.

Yang menarik dari kejadian itu adalah obrolan di warung kopi. Orang lapangan seperti kami, tidak bisa jauh dari warung kopi. Seperti orang kantoran jugalah. Bedanya hanya soal harga saja. Kalau orang kantoran membeli kopi seharga 4 dollar, kalau kami cukup minum kopi seharga 4 ribu rupiah saja. Selagi menikmati kopi aseli itulah muncul komentar beragam macam. Dari mulai yang simpati, kasihan, sampai sangat emosional. Para panelis percaya bahwa teman kami itu bukanlah satu-satunya yang melakukan tindakan itu. Tapi kenapa hanya dia yang terkena sanksi? Mereka juga mengatakan jika para atasan pun banyak yang melakukan hal itu. Tapi mengapa mereka aman-aman saja? Mereka bahkan berpendapat bahwa, perilaku seperti itu jamak terjadi di perusahaan manapun. Tapi kenapa hanya disini yang menghukum seberat itu. Perdebatannya alot sekali. Hingga seseorang mengatakan bahwa, teman kami itu sedang apes saja. Sedang apes? Ya, sedang apes. Mendadak saja. Tidak ada lagi penyangkalan apapun. Semuanya pada diam seribu bahasa. Seolah semua panelis sependapat bahwa memang dia sedang apes.

Peristiwa yang menimpa teman kami itu bukanlah yang terakhir. Perusahaan kami memang dikenal dengan sikap tegasnya dalam menegakkan etika bisnis, dan nilai-nilai kejujuran. Hampir setiap tahun, ada saja yang terkena apes. Lalu mengalami nasib yang sama. Konferensi warung kopi pun sudah tidak lagi membahas kenapa si ini, bukannya si itu. Atau kenapa hanya si ini, tidak sekalian si itu juga. Diskusi panel itu telah berubah tema dari membahas tentang ‘kenapa’ menjadi ‘bagaimana’. Maka judul diskusi panel di warung kopi 4 ribuan itu pun menjadi “Bagaimana caranya terhindar dari apes”.

Ada banyak solusi yang dikemukakan para panelis. Misalnya, ’Kalau elo melakukannya ya jangan ketahuan dong’. Atau, ‘Pandai-pandailah melihat situasi’. Atau, ‘Jangan pernah melakukannya sendirian’. Dan masih banyak lagi solusi cerdas sehingga setiap kali selesai mengikuti diskusi panel itu, para peserta diharapkan bisa menjadi semakin canggih dan tetap aman dalam bekerja. Sayangnya, secanggih apapun hasil diskusi panel itu; tidak bisa mencegah terjadinya peristiwa serupa. Entah bagaimana ceritanya, selalu saja ada orang yang masih terkena apes itu. Jelas sekali, jika diskusi panel seperti itu tidak bisa memberikan solusi handal agar terhindar dari apes.

Suatu kali saya bertemu dengan seorang legenda. Disebut begitu karena beliau ini mempunyai reputasi sebagai orang yang paling jago meloloskan diri. Tidak pernah terkena apes, jika menggunakan terminonologi teman-teman di warung kopi. Dan disebut legenda, karena sekarang beliau sudah tidak aktif lagi. Mungkin, orang seperti inilah yang perlu menjadi nara sumber dalam diskusi panel di warung kopi itu. Supaya pembicaraannya berbobot, dengan metode dan teknik menghindari apes yang teruji. Namun, orangini sudah sangat lama sekali mengundurkan diri dari ‘dunia kang-ow’. Sehingga beliau tidak mungkin mau melakukannya. Saya beruntung punya kesempatan bertemu dengannya. Mungkin sekarang saya boleh membagikan teknik handal menghindari apes itu kepada orang lain yang tidak bisa bertemu langsung dengannya.

Saya bertanya kepada beliau; ”BagaimanaBapak bisa terhindar dari apes?”. “Oh, itu ada tekniknya…” jawabnya. Saya penasaran sekali. Apa tekniknya. Maka saya pun bertanya jika beliau berkenan mengajari saya tentang teknik menghindari apes itu. “Kamu sendiri pernah melakukannya?” beliau mengajukan pertanyaan yang menohok. Sampai-sampai saya tidak bisa berkata apa-apa. “Ah, sudahlah. Seharusnya saya tidak bertanya begitu,” katanya. Seolah beliau melepaskan saya dari sebuah kuncian yang menghentikan jalan nafas saya.

“Saya ingin mengetahui teknik paling ampuh untuk menghindari apes itu.” Kata saya. “Kamu sungguh ingin tahu?” katanya. Saya menganggukkan kepala. “Baiklah,” lanjutnya. “Dengarkan ini baik-baik….”. Maka saya pun memasang telinga dengan sungguh-sungguh. Lalu, di telinga saya terngiang nasihatnya tentang teknik paling jitu menghindari apes itu.  Katanya; ”Jangan pernah melakukan tindakan yang tidak patut. Maka kamu akan selalu terhindar dari apes…..”.

Saya termangu mendengarnya. Tidak seperti yang saya harapkan. Setidaknya, saya menganggap jika teknik itu harusnya benar-benar canggih. Bukan sekedar berupa kalimat kosong begitu saja. “Adakah cara lainnya?” lidah nakal saya tidak kuasa dikekang. “Tidak ada.” Katanya. “Hanya itu saja.”

“J-Jangan pernah melakukannya?” Saya mengucapkannya dengan terbata-bata. Beliau menatap saya tajam sekali. Sampai tatapannya menembus ke ulu hati. Saya menyadari jika beliau hendak mengukur tentang;’seburuk apa sih perbuatan yang sudah dilakukan oleh anak muda ini’. Saya pasrah saja.

“Terlanjur, hemh?” katanya. Saya terhenyak. Seperti tengah ditelanjangi. “Berhenti saja.” Tambahnya. Beliau sepertinya bersungguh-sungguh sekali mengucapkannya. Saya tidak tahu apakah beliau mengetahui sesuatu tentang perbuatan-perbuatan saya dimasa lalu. Ataukah beliau tahu jika saya punya akses kepada orang-orang yang suka berdiskusi di warung kopi. Tapi, apapun yang beliau pikirkan; saya memastikan bahwa pembicaraan ini akan sangat berguna sekali.

Tidak sia-sia beliau pernah mengatakannya kepada saya. Karena setelah itu, saya punya kesempatan untuk memegang microphone di warung kopi. Lalu, entah dari mana datangnya kekuatan itu. Tiba-tiba saja saya sanggup mengulangi perkataan Sang Legenda dihadapan para penggiat teknik menghindari apes itu. Saya, seperti dijerumuskan oleh kekuatan untuk mengatakan; ”Jangan pernah melakukan tindakan yang tidak patut. Maka Anda akan selalu terhindar dari apes…..”

Orang-orang di forum diskusi panel itu seperti kedatangan alien dari angkasa luar. Mereka menatap saya dengan aura tidak percaya, jika ada seseorang yang sanggup mengatakan kemustahilan itu. Mustahil, karena hal itu sudah terlajur terjadi. “Atau…” lidah saya kembali dikendalikan oleh remote control. “Tidak mengulanginya lagi…..”

Asam dan garam telah mengajari saya bahwa tidak semua orang yang mengambil sesuatu yang bukan haknya di kantor adalah orang-orang buruk. Hal itu dilakukan bukan karena hati mereka gelap gulita. Banyak yang melakukannya karena kepolosan. Mengira bahwa itu lumrah atau wajar saja. Ada yang dipaksa oleh lingkungannya. Ada juga yang tersandera oleh kekuatan yang sulit dilawan. Anda, beruntung jika tidak pernah mengalami situasi seperti itu. Maka seperti pesan Sang Legenda pada saya; pertahankan. Jangan pernah melakukannya. Maka selamanya Anda akan terhindar dari apes. Mungkin, ada juga yang sudah pernah melakukannya. Dengan berbagai kemungkinan penyebabnya. Maka pesan Sang Legenda, berhentilah. Jangan melakukannya lagi. Saya bertanya kepada beliau; “Mengapa berhenti jika bisa meloloskan diri? Bukankah Bapak tidak pernah masuk penjara?”

Sang Legenda menatap saya. Lalu… “Tahukah kamu,” katanya. “Apa  yang dimaksud dengan penjara seumur hidup?” matanya memandang dengan tatapan yang dalam. “Tentu,” saya bilang. “Masuk penjara dan tidak boleh keluar lagi sampai meninggal di dalam penjara itu.” Percuma punya kawan pengacara kalau tidak bisa menjawab pertanyaan cetek begitu.

“Bukan.” Katanya. “Bukan itu.” “Lalu?” saya terperangah. Tidak mengira jika jawaban saya salah. “Penjara seumur hidup itu adalah,” kata Sang Legenda. “Ketika jiwamu ingin terus-menerus melakukan keburukan demi keburukan. Sedangkan kamu tidak sanggup lagi menghentikan keinginan itu…..”

Deg. Jantung saya seperti ada yang menumbuk. Ketika jiwamu ingin terus menerus melakukan keburukan demi keburukan. Tanpa kamu sanggup menghentikan keinginan itu. Maka itulah hakikat dari penjara seumur hidup yang sebenarnya. Hingga bertahun-tahun kemudian saya masih selalu bisa mengingat penjelasan Sang Legenda itu.

Saya masih terus mengingat kalimat itu. Khususnya ketika saya membaca firman Tuhan dalam surah 83 (Al-Muthaffifin) ayat 14. Begini bunyinya; “…..Apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka…”  Lamanya kurungan bisa dimodifikasi. Bisa mendapat remisi. Bahkan grasi. Tapi yang namanya penjara hati? Tidak seorang pun bisa membebaskan diri kecuali melalui pertaubatan yang sungguh-sungguh. Sahabatku. Mumpung hati kita belum seluruhnya tertutupi. Mari kita menghentikan tindakan-tindakan tidak patut yang mungkin selama ini kita lakukan. Agar hati kita, kembali bersih. Ketika hati kita sudah kembali bersih, kita tidak perlu lagi mencari-cari cara; agar terhindar dari apes. Karena dengan hati yang bersih, tidak ada yang perlu kita tutup-tutupi.

Sebuah Catatan Kaki Dari Teknik Cara Menghindari Apes

Hati berkata baik, jika dia diliputi nilai-nilai yang baik. Hati berkata buruk, jika dia dibiasakan dengan tindakan dan perilaku yang buruk.

Sumber : Dadang Kadarusman

Silahkan baca juga Kata Mutiara – Kehidupan

, , , , , , , , , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply