Tips – Berfikirlah Sebelum Berbicara

Apa akibat dari omongan negatif orang lain terhadap kita? Atau mungkin terhadap kantor tempat kita bekerja??

.

Mungkin ada diantara kita yang pernah mengalami cercaan, hujatan, atau kritikan pedas dari orang lain. Lalu apa tindakan yang diambil? Atau mungkin lembaga tempat seseorang bekerja, mencari nafkah serta periuk mengais rejeki menghidupi keluarganya yang mendapat sorotan tajam dari khalayak. Instansinya diperolok-olok dan didiskreditkan sedemikian rupa, sehingga menimbulkan citra negatif.

Masih hangat dalam ingatan kita, bahwa baru-baru ini seorang mantan anggota legislatif divonis oleh pengadilan dengan hukuman percobaan delapan bulan penjara. Mantan anggota dewan itu memang tidak dijebloskan ke bui, namun sekali lagi berbuat hal yang sama, maka dirinya langsung masuk ke jeruji besi.

Ikhwal kasus tersebut mencuat lantaran mantan anggota dewan tersebut menyebarkan berita yang mencemari nama baiknya lawan politiknya. Karena tidak ada bukti kuat yang mendukung tuduhannya, maka anggota dewan itu meminta maaf kepada korban pencemarannya.

Permintaan maafnya diterima, namun tidak serta merta menghapuskan kesalahannya, sehingga hukuman delapan bulan harus dijalani. Ganjaran tersebut dipandang cukup memberikan rasa keadilan dan menjadi pelajaran bagi yang lain, agar hal serupa tak terulang lagi.

Seperti kisah seorang ibu yang menyebarkan aib salah seorang warga kampung sebelahnya. Si ibu itu mengatakan kepada warga kampungnya, bahwa seorang gadis di kampung sebelah sering menggoda para kaum suami karena kecantikannya, dan memfitnahnya dengan sebutan wanita nakal, hanya karena si gadis itu bekerja pada malam hari.

Para ibu yang mempercayai fitnah itu, lantas mencibir, memandang sinis, dan memperlakukan secara tidak patut kepada sang gadis. Pada akhirnya berita itu tidak benar, karena ternyata si gadis jika pagi hingga siang ia kuliah, sedangkan malam harinya menyambi bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit.

Si ibu yang terlanjur memfitnah merasa menyesal, telah menyebarkan berita bohong, lalu pergi ke seorang bijak. “Bagaimana saya harus berbuat Pak, setelah saya menyebarkan berita bohong itu”, ujarnya kepada sang Bijak.

“Pertama kau harus meminta maaf kepada sang gadis, lalu kau ke pasar dan belilah seekor ayam. Setelah disembelih kau cabuti bulunya sambil berjalan ke rumahku hingga ayam itu tidak ada bulunya”, saran orang Bijak.

Si ibu menuruti perintah orang bijak itu, mencabuti bulu ayam hingga bersih sama sekali, dan tiba di rumah orang tua itu. “Nah sekarang kau kembali ke pasar menyusuri jalan sama seperti yang kau lalui ketika menuju ke rumahku. Lalu kau pungut bulu-bulu ayam yang telah kau cabuti tadi”, pinta sang Bijak.

Si ibu pun menuruti lagi perintahnya. Berjam-jam ia menyusuri jalan itu mencari bulu-bulu ayam tadi, tetapi hingga kembali ke rumah sang Bijak, ia tidak memperoleh sehelai bulu pun. Karena bulu-bulu tadi telah terbang diterpa angin. “Begitu mudah manusia mencabuti bulu ayam dan membuangnya, seperti itulah fitnah yang kau buat. Mudah sekali lidah mengatakannya, namun sulit menarik kembali ucapan yang telah keluar, seperti sulitnya kau mengambil kembali bulu-bulu ayam itu”.

Fikir dahulu sebelum bicara, dan memang lidah memang tak bertulang, tetapi banyak orang yang terluka dan tersakiti oleh karenanya. Jangankan berkata sesuatu yang cenderung suatu fitnah, mengatakan aib seseorang yang senyatanya benar saja sudah termasuk ghibah, apalagi perkataan dusta/bohong.

Sebagian orang menganggapnya biasa saja, tetapi tidak bagi Allah. Sehingga tidaklah mengherankan jika fitnah itu dikatakan lebih kejam daripada pembunuhan. “fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan,” (QS. Al Baqarah, [2]:191). Menyebar berita bohong atau menebar fitnah sudah pasti ganjarannya amat besar.

Hal itu tersurat dalam firman-Nya yang berbunyi, “siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar” ((QS. An Nuur, [24]:11).

Orang yang mula-mula menebar fitnah, mempunyai andil terbesar terhadap penyiaran berita bohong itu, maka balasan-Nya pasti lebih besar. Fitnah tidak saja membunuh karakter seseorang, tetapi membuatnya sengsara berkepanjangan, karena kebanyakan orang terlanjur mempercayai berita bohong tersebut.

Seperti tetangga penulis di kampung, yang gagal masuk Akabri lantaran fitnah keji bahwa orang tuanya adalah eks anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Padahal ia cerdas serta selalu menjadi bintang sekolah karena prestasi akademiknya menakjubkan.

Di kemudian hari, ternyata sang ayah tidaklah seperti yang disangkakan selama ini. Walaupun fitnah bisa jadi merupakan bagian dari perjalanan hidup, namun jika seseorang dalam hidupnya membuat orang lain sengsara, tentu perbuatan jahatnya akan diganjar setimpal dengan ulah yang dibuatnya.

“Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya,” (QS. Al An’aam, [6]:160).

Lalu bagimana sikap orang yang menjadi korban penyebaran berita. Mawas diri adalah sikap yang diutamakan. Karena tidak ada suatu peristiwa pun yang menimpa diri seorang hamba, tanpa maksud di dalamnya. Allah Maha Mengetahui dibalik setiap kejadian, baik berupa sangkaan positif maupun negatif menurut kacamata manusia.

Jika itu adalah lembaga tempat seseorang bekerja yang dijelek-jelekan, bisa jadi hal itu sebagai kontrol sosial atas perilaku sebagian kecil individu anggota lembaga itu yang bertindak lepas kendali. Papatah mengatakan “Tidak ada asap jikalau tidak ada api”.

Mereka mengkritisi instansi tersebut, karena pihak luar mencintai dan menyanyangi lembaga itu. Hal positif yang bisa diambil adalah menata dan bercermin kembali atas sepak terjang yang selama ini dilakukan. Serta melakukan pembenahan ke dalam dan memperbaiki kelemahan-kelemahan yang dituduhkan oleh pihak luar – jika memang ada. Hingga tercipta suatu keadaan yang tiada memungkinkan celah bagi pihak manapun mengorek-orek sumber peluang munculnya berita.

Jikapun tudingan miring hanya karena kebencian, iri, dan dengki dari pihak yang tidak senang. Karya nyata lebih efektif daripada sekedar pembelaan retorika. Pun jika hal itu menimpa diri seseorang sebagai individu, tidak jauh berbeda dalam menyikapi seperti halnya jika menimpa institusi. Hal penting lain adalah, tidak terpancing untuk marah, tersinggung, apalagi sakit hati.

Hal yang paling utama adalah sabar seraya berdo’a memohon pertolongan-Nya. Menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan, membutuhkan sebuah kesabaran. Namun sikap tersebut perlu dibarengi dengan ikhtiar, dengan kata lain, jika dipandang perlu dan guna menimbulkan efek jera bagi si pelaku, seperti kasus anggota dewan di atas, rasanya cukup efektif membendung arus berita negatif agar tidak terus mengalir.

Firman-Nya telah menganjurkan kepada kita semua untuk menengadahkan tangan meminta bantuan-Nya, seperti ayat berikut, “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al Baqarah, [2]:153).

Oleh Fauzi Nugroho

, , ,

No comments yet.

Leave a Reply