Sabtu, 6 Juni 2020

Kasih Ibu

Perlu Dibaca

Tips Biar Banyak Teman

Bagaimana caranya biar kita semakin banyak teman, berikut sedikit tips, yang mungkin bisa berguna bagi teman-teman yang ingin mempunyai...

Tiga Cara Menghadapi Amarah

1. Melihat Situasi Dengan Cara Yang Berbeda Amarah biasanya datang lewat kejadian di sekitar kita. Bisa apa saja tanpa terduga...

Mencapai Potensi Hidup yang Maksimal

Setiap orang mendambakan masa depan yang lebih baik ; kesuksesan dalam karir, rumah tangga dan hubungan sosial, namun seringkali...

Kumpulan kata kata bijak (Bagian 2)

  Kumpulan kata kata bijak (Bagian 2) - Berikut ini kumpulan kata kata bijak yang memiliki makna yang dalam hingga...

12 Cara Mengatasi Kesedihan

Hidup seakan menjadi tidak nyata setelah kehilangan sesuatu yang sangat berarti. Belajar bagaimana cara menghadapinya, terlibat di dalamnya, dan...

Kasih Ibu – Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

Kasih Ibu
Kasih Ibu [n14l.deviantart]

Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.

Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.

Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.

Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.

Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.

Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.

Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.

Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.

Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang baik dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.

Refrensi: motivationplannet dan jagatmotivasi.com
Silahkan baca juga tentang Perjuangan Ibu Mengandung Dengan Luar Biasa

Berita sebelumyaBelajar Dari Kutu Anjing
Berita berikutnyaHarga Anak Anjing Cacat
- Advertisement -

SILAHKAN BERI KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Postingan Terbaru

Tips Biar Banyak Teman

Bagaimana caranya biar kita semakin banyak teman, berikut sedikit tips, yang mungkin bisa berguna bagi teman-teman yang ingin mempunyai...

Warisan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew berupa Penghargaan bagi Orang Tua

Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew telah meninggal dunia. Namun bukan hanya warisan berupa kedigjayaan negara Singapura yang berhasil menjadi salah satu negara makmur...

Bangkit dari Kegagalan – Sunil Mittal, Jajaran Orang Terkaya Dunia

Bagaimana kisah sukses dari para orang terkaya dunia? Simak salah satu kisah diantaranya, bagaimana Sunil Mittal mengawali bisnis, dan bangkit hingga masuk ke dalam...

Sulaiman Ar-Rajhi – Konglomerat lulusan SD yang Bikin Muadzin Malu

Hanya tamat sekolah dasar, namun dengan kegigihan usaha dan kedekatan kepada Allah SWT, maka Sulaiman Ar-Rajhi berhasil menjadi konglomerat. Bukan model konglomerat glamour yang...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -